DARI sunyi yang tak bernama,
kita hadir dalam tangis pertama,
tertelungkup lemah di pangkuan dunia,
bagai butiran debu yang tertiup fana.
Bukan taring, bukan sayap,
bukan cakar atau paruh tajam,
hanya jerit lirih dan kulit yang rapuh
di hamparan semesta yang gemuruh.
Harimau berdiri dengan garang,
anak ayam melangkah tanpa bimbang,
tapi kita…
harus dituntun, digendong, dibimbing arah.
Apa artinya kuat, jika tanpa arah?
Apa gunanya akal, jika membangkang fitrah?
Tuhan tak jadikan kita unggul karena daging,
tapi karena pikir, rasa, dan jantung yang jernih bening.
Manusia,
lemah sejak mula,
kuat dalam sekejap,
dan kembali rapuh menjelang senja.
Kulit keriput tak menipu usia,
rambut memutih tak bisa didustakan cerita,
itulah hidup,
berawal dari ketiadaan, dan berpulang ke sana jua.
Lantas untuk apa congkakmu menjulang?
Untuk siapa kesombongan kau dendangkan?
Sementara hembus terakhir
tak butuh izinmu untuk datang.
Akalmu bukan tahta yang abadi,
ilmumu bukan pelindung dari mati,
karena hakikatmu adalah fana,
dan hakikat fana adalah rendah hati.
Manusia,
tempat salah dan lupa,
berhak ditegur,
dan wajib mengingatkan sesama.
Jangan kau jadikan pendapatmu kitab suci,
jangan kau anggap dirimu nabi,
sebab sebaik-baik insan
adalah yang mengajak tanpa menggurui.
Bersahutlah dalam kebaikan,
sebab cahaya tak butuh teriakan,
cukup menjadi lentera
bagi jiwa-jiwa yang kehausan makna.
Sujudkan akalmu pada yang Maha Arif,
pasrahkan langkahmu kepada yang Maha Rahim,
sebab sesungguhnya hidupmu, matimu,
hanyalah untuk Rabb semesta yang Hakim.
Maka berjalanlah…
dengan akal yang rendah hati,
dengan hati yang lapang menerima,
sebab sehebat apapun kita berdiri,
akhirnya semua akan tiada…