cerita bersambung

Senja Majapahit, Fajar Demak (8): Wali dan Takhta

DI pesisir utara Jawa, Glagah Wangi perlahan menjadi pusat perhatian para pedagang dan rakyat. Di tengah hiruk-pikuk pasar dan dermaga, Raden Patah menapaki langkah-langkah kepemimpinan yang semakin mantap. Namun ia sadar, darah Majapahit yang mengalir di tubuhnya hanyalah satu...

Senja Majapahit, Fajar Demak (6): Api Pemberontakan dari Dalam

MAJAPAHIT yang dulu tegak sebagai lambang kejayaan Nusantara, kini mulai bergetar dari dalam. Bukan hanya tekanan dari luar, tetapi api pemberontakan justru membakar dari dalam tubuhnya sendiri. Persaingan antar pangeran, perebutan tahta, dan intrik istana menjadi duri yang menusuk...

Senja Majapahit, Fajar Demak (5): Bayangan di Palembang

SUNGAI Musi yang tenang menghidupkan Palembang sebagai pelabuhan ramai, pintu keluar masuk barang dari tanah seberang. Bau rempah, kayu gaharu, dan kain sutra bercampur dengan teriakan para kuli pelabuhan yang memanggul karung-karung berat. Di sinilah, jauh dari hiruk pikuk...

Senja Majapahit, Fajar Demak (4): Darah dan Perang Paregreg

SEJARAH Majapahit tidak pernah lepas dari noda darah yang tumpah di tanahnya sendiri. Perang Paregreg yang pecah pada awal abad ke-15 menjadi luka yang paling dalam, luka yang tak kunjung sembuh, luka yang diam-diam menggerogoti jantung kerajaan hingga rapuh...

Senja Majapahit, Fajar Demak (3): Pesisir yang Berdenyut

GRESIK, Tuban, dan Jepara—nama-nama pelabuhan itu menggema seperti nadi yang berdenyut di pesisir utara Jawa. Kapal-kapal besar dari Gujarat, Persia, Arab, bahkan Tiongkok berlabuh di dermaga, menurunkan rempah, kain, logam, dan membawa berita tentang dunia luar. Di antara barang...

Senja Majapahit, Fajar Demak (2): Bocah dari Campa

DI tepi Laut Cina Selatan, seorang bayi menangis untuk pertama kalinya. Ia lahir dari rahim seorang putri Campa, perempuan yang wajahnya menyimpan jejak keturunan bangsawan Asia Tenggara. Darah Campa itu kelak akan bercampur dengan darah Majapahit, menjadikannya sosok yang...

Senja Majapahit, Fajar Demak (1): Bisik-Bisik Pengkhianatan

LANGIT Trowulan sore itu memerah, seakan turut menangisi istana yang kian renta. Angin berhembus membawa bau dupa dari candi-candi yang mulai sepi, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan turun. Di alun-alun yang dulu penuh pasukan gagah, kini hanya...

Babad Sepehi (20-Tamat): Warisan Babad Sepehi

WAKTU terus berjalan, meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus oleh sejarah resmi. Babad Sepehi yang ditulis dengan tinta air mata Pangeran Mangkudiningrat menjadi warisan abadi yang menyuarakan kebenaran dari balik bayang-bayang pengasingan. Meski terpisah jarak dan dibelenggu oleh penjajah,...

Babad Sepehi (19): Titik Balik Perjuangan

TITIK balik perjuangan mulai muncul dari gerakan-gerakan kecil yang tersebar di seluruh Jogja. Semangat yang pernah redup kini bersemi kembali. Para pemuda dan bangsawan yang dulu ragu, mulai menyadari bahwa masa depan Keraton dan rakyat Jogja harus diperjuangkan...

Babad Sepehi (18): Suara dari Pengasingan

DI balik laut yang membentang antara Pulau Penang dan Jogja, suara-suara pengasingan bergema dalam hati Pangeran Mangkudiningrat. Di ruang sempit yang menjadi tempatnya, ia terus menulis dan merangkai kata, mengabadikan kisah getir yang tak boleh terlupakan. Tulisan “Babad Sepehi” itu...

Latest News

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...