cerita bersambung

Dua Luka dalam Satu Atap (7): Hujan yang Tak Pernah Reda

PAGI menyambutku dengan rintik yang sama seperti malam sebelumnya. Rasanya seperti dunia enggan memberi kesempatan bagi matahari untuk bersinar. Tapi barangkali, bukan langit yang enggan cerah melainkan hatiku yang tak kunjung menemukan cahaya. Di luar, daun-daun basah bergetar diterpa gerimis....

Dua Luka dalam Satu Atap (6): Hari Saat Aku Mulai Menyerah

ADA hari-hari yang datang tanpa aba-aba, membawa rasa pasrah yang tak lagi bisa kau sangkal. Hari ini, entah kenapa, aku merasa sudah terlalu letih menggenggam apa pun. Bahkan marah pun tak lagi menggelegak ia hanya menjadi gumaman yang tak...

Dua Luka dalam Satu Atap (5): Sepucuk Surat yang Tak Pernah Terkirim

TAK semua luka butuh darah untuk membuktikan keberadaannya. Ada luka yang begitu dalam, ia hanya tampak dari cara seseorang duduk terlalu lama dalam diam, atau dari mata yang tak lagi berbinar saat mendengar namamu. Dan itulah aku, pagi ini. Duduk...

Dua Luka dalam Satu Atap (4): Gerimis yang Mencuri Kebahagiaan

HARI itu, langit tak sekadar mendung. Ia seolah enggan mengangkat wajahnya dari bumi. Awan kelabu menggantung seperti bayangan luka yang menggumpal di dadaku. Aku memandangi jendela dengan tatapan kosong. Gerimis turun, pelan, seakan takut merusak kesepian. Tapi justru itulah yang...

Dua Luka dalam Satu Atap (3): Kisah yang Tak Pernah Kau Ceritakan

LANGKAHMU berat saat kau menuju kamar. Mungkin kau merasa bayangan yang menunggu di ruang tamu akan segera menagih jawaban. Tapi aku diam, mematung, hanya menatap punggungmu yang tak pernah selebar dulu. Dulu, punggung itu adalah tempat aku menyandarkan kepenatan,...

Dua Luka dalam Satu Atap (2): Jejak Wangi yang Tak Pernah Kukenal

PAGI merekah dengan matahari pucat yang enggan bersinar. Aku terbangun lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena semalaman aku tak benar-benar tidur. Hanya berguling, memejamkan mata, mencoba pura-pura tak mendengar detak jam dinding yang terdengar semakin keras. Detak itu seolah...

Dua Luka dalam Satu Atap (1): Retakan yang Tak Terlihat

AKU selalu percaya rumah tangga kami berdiri di atas fondasi yang kokoh. Ada tawa, ada doa, ada mimpi yang kami anyam bersama. Namun, tak pernah kusadari, retakan itu muncul bukan dengan dentum keras, melainkan getar-getar halus yang tak terdengar. Pagi...

Pagar Laut yang Terlupakan (20-Tamat): Pertempuran Terakhir

FAJAR menyingsing di langit timur, mewarnai cakrawala dengan semburat jingga yang berpendar di atas lautan. Di kejauhan, Pulau Kecil tampak sunyi, seolah tak terjadi apa-apa semalam. Tapi Rifki, Tegar, dan Hasan tahu bahwa gelombang perlawanan baru saja dimulai. Di dalam...

Pagar Laut yang Terlupakan (19): Serangan Balik di Malam Gelap

MALAM menelan Pulau Kecil dalam kegelapan pekat. Angin laut bertiup dingin, membuat daun-daun bakau bergemerisik seperti bisikan samar. Di dalam pondok reyot, Rifki, Tegar, dan Hasan duduk mengelilingi sebuah lentera kecil, merencanakan langkah mereka selanjutnya. “Kita harus bergerak sebelum mereka...

Pagar Laut yang Terlupakan (18): Kembali dengan Nyali

PERAHU Perahu kecil itu membelah ombak dengan kecepatan sedang, menjauhi dermaga yang masih diramaikan suara tembakan dan jeritan. Rifki menoleh ke belakang, melihat pantai yang semakin jauh. Bayangan para nelayan yang bertahan melawan anak buah Heru membuat hatinya dipenuhi...

Latest News

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...