cerita bersambung

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 8: Misteri

Oleh Miftah H. Yusufpati DUA badai kini berputar di kepala Prabu: persoalan yang belum selesai dengan Caca, dan harapan baru bernama Isma. Ia tahu keduanya tak boleh bercampur. Cinta yang belum tuntas sering kali menjadi pintu kegelapan bagi cinta berikutnya....

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 7: Isma

Oleh Miftah H Yusufpati SABTU pagi pukul 06.30, Bekasi baru saja terbangun oleh suara motor tukang sayur yang lewat. Namun Prabu sudah melaju di atas aspal dengan dada yang penuh degup tak menentu. Ia menyalakan mobilnya setelah menunaikan salat Subuh....

Senja Temaram di Cipayung – Bagian 6: Kegelapan

Oleh Miftah H Yusufpati PRABU merasa tubuhnya kehilangan gravitasi ketika azan asar terdengar dari mushola kecil sela-sela villa. Ia berdiri, mengambil wudhu dengan tangan gemetar. Air gunung yang dingin mengalir di atas kulitnya seperti doa yang memaksa kesadaran kembali. Dalam fikih,...

Senja Temaram di Cipayung – Bagian 5: Langkah Berat

Oleh Miftah H Yusufpati SABTU malam turun perlahan di langit Ngawi, meninggalkan jejak jingga di pucuk-pucuk jati yang tegak bagai para perwira tua. Udara mulai beraroma tanah basah dan dedaunan. Namun Prabu tak punya waktu menikmati keindahan itu. Nanda yang...

Senja Temaram di Cipayung — Bagian 4: Kode Merah

Oleh Miftah H Yusufpati MOBIL Prabu menaiki jalan Puncak menuju Cilember, meninggalkan restoran Rafles yang kini terasa seperti panggung percakapan yang belum selesai. Hidayat duduk di sebelahnya dengan wajah yang lebih murung daripada ketika mereka datang. Ia seperti kehilangan sebagian...

Senja Temaram di Cipayung – Bagian 3: Mahar

Oleh Miftah H Yusufpati SABTU siang itu, awan menggantung rendah di langit Bekasi, seperti memantulkan gelombang gelisah dalam dada Prabu. Ia duduk di ruang kerjanya, memandang layar ponsel dengan tatapan yang menghubungkan logika dan firasat. Nomor yang Dewi berikan—yang katanya...

Senja Temaram di Cipayung – Bagian 2: Senandung Cikreteg

Oleh Miftah H Yusufpati SIANG itu matahari Jakarta menggantung rendah, menyorotkan garis-garis cahaya ke gedung-gedung kaca di sepanjang Kuningan. Prabu baru saja menuntaskan sebuah laporan ketika ponselnya bergetar. Hidayat mengirim pesan singkat: “Bro, siap jalan? Kita ke Cisarua dulu, lanjut...

Senja Temaram di Cipayung – Bagian 1: Pergolakan

Oleh Miftah H. Yusufpati DI kamar berukuran empat kali lima meter itu, langit-langit tampak seperti kubah sunyi yang menahan segala keluhan Prabu. Lampu tidur menyala temaram, memantulkan bayangan: gelombang yang bergetar halus pada dinding. Di sampingnya, Wina terbaring dengan napas...

Senja Majapahit, Fajar Demak (20-Tamat): Fajar Demak Menyingsing

AKHIRNYA, fajar benar-benar menyingsing. Dari Tuban hingga Jepara, rakyat pesisir bersatu di bawah panji Raden Patah. Dermaga ramai oleh aktivitas perdagangan, surau-surau dipenuhi doa, dan pasar-pasar menjadi pusat kebersamaan rakyat. Demak kini bukan sekadar nama; ia menjadi simbol persatuan,...

Senja Majapahit, Fajar Demak (19): Langkah Menuju Takhta

RADEN Patah kini semakin mantap dalam langkahnya. Dari Tuban hingga Jepara, jaringan rakyat, pedagang, dan santri telah bersatu di bawah panji keadilan yang dibawanya. Setiap desa, setiap pelabuhan, dan setiap komunitas pesisir mulai mengenal namanya sebagai simbol perubahan, persatuan,...

Latest News

9.500 Mahasiswa PTMA Jabar Diterjunkan Verifikasi Data Anak Putus Sekolah

BANDUNG, JAKARTAMU.COM | Sebanyak 9.500 mahasiswa dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) se-Jawa Barat akan diterjunkan ke sekitar...